Pariwisata
Indonesia Perlu Penerbangan Langsung
| F.kompas.com |
JAKARTA, (LKARN) – Bagi pariwisata Indonesia, tantangan terbesar
adalah masalah direct flight atau penerbangan langsung. Hal tersebut diungkapkan Menteri
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu pada jumpa pers di Gedung
Sapta Pesona, Jakarta, Senin (1/10/2012).
“Tantangan
kita adalah direct flight. Kalau dibandingkan dengan Thailand, ke Thailand itu semua direct flight. Kita ke Jogja harus dari Jakarta,” tutur
Mari.
Mari
berharap adanya penerbangan langsung yang menghubungkan suatu destinasi wisata
di Indonesia dengan negara-negara lain terutama pasar pariwisata Indonesia.
Minimal, lanjutnya, transit dilakukan di pesawat yang sama.
“Kalau
pun pesawat tidak sama, tetapi transfernya (dari satu pesawat ke pesawat lain)
dibuat senyaman mungkin,” katanya.
Oleh
karena itu, Mari berharap dengan rencana Garuda yang mengembangkan feeder (pesawat penghubung) dengan pesawat kecil
sebagai konektivitas antara kota besar dengan daerah-daerah lain.
Hanya
saja, di sisa tahun 2012 ke depan, pihaknya hanya bisa mengandalkan kapasitas
kursi yang tersedia dari berbagai maskapai. Mari mengungkapkan pada tiga
bulan terakhir tahun 2012, pihaknya berusaha memaksimalkan kursi yang ada,
terutama di off season (di luar musim padat kunjungan) yaitu Oktober dan November.
Sementara di bulan Desember, kata Mari, sudah relatif penuh.
“Tetapi
banyak harapan di tahun depan. Beberapa airline (maskapai) termasuk Garuda akan
meningkatkan direct flight dan penambahan frekuensi,” tuturnya.
Selain
itu, Korea Air dan Asiana juga direncanakan akan meningkatkan frekuensi terbang
ke Jakarta. Sehingga, ungkap Mari, pihaknya harus gencar mendorong paket-paket untuk
wisatawan asal Korea Selatan.
“Untuk
turis Korea, kita fokus di luar yang umum. Yang menarik di Busan, ada Busan
Indonesia Center. Jadi di luar Seoul (ibu kota Korea Selatan), kita harus
lakukan marketing (pemasaran) juga,” ungkap Mari seperti yang dilansir kompas.com
Selain
itu, untuk turis Korea Selatan juga dikembangkan wisata golf, long stay
tourism (wisata untuk menetap
lebih panjang) yang ditujukan bagi orang-orang pensiunan, dan wisata religi
yang berfokuskan pada agama Buddha.
“Mereka
banyak yang ke Angkor Wat (Kamboja). Ini kita dengan Borobudur, kita bisa
kembangkan,” tambah Mari.(LKARN/KPC)
Sitemap
Forum Komunikasi
Kebijakan
Kontak Me
0 komentar:
Posting Komentar